Belakangan ini marak dengan peredaran video asusila yang melibatkan dua anak berusia delapan tahun atau anak dibawah umur di media sosial.
Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) sendiri memberi tanggapan mengenai beredarnya
video asusila berdurasi 4 menit dan 8 detik tersebut, beliau meminta kepada masyarakat tidak usah melihatnya. mungkin maksudnya jangan dilihat saja tapi dijadikan pelajaran buat yang lain, agar lebih waspada dalam mendidik dan mengurus anak, karena anak adalah asset bangsa untuk masa depan.
"Jangan dilihat saja," jawab JK singkat, Kamis (28/5).
Selain itu, JK menuturkan, bahwa video asusila memang banyak beredar didunia maya dan hampir disemua negara ada. Sehingga, yang perlu dilakukan saat ini, ialah mencari siapa otak dibalik video asusila anak tersebut, dan yang terpenting memberi pelajaran moral terhadap anak tentang hal-hal yang berbau dewasa dan belum saatnya anak usia dini lakukan.
"siapa yang suka bikin video begituan. Oleh karena itu, polisi sedang mencari siapa yang bikin itu," ujar JK.
Terkait
peredaran video asusila yang diperankan oleh anak berusia 8 tahun,
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) telah meminta aparat kepolisian mengusutnya dan mencari otak dibalik video itu, karena dianggap sebagai tindak kejahatan. KPAI menegaskan berdasarkan
UU Perlindungan Anak, anak sebagai korban pornografi akan mendapatkan pelindungan khusus.
Sedangkan, pelaku penyebarluasan konten pornografi dapat dijerat dengan Undang-Undang (UU) Pornografi dan dijatuhi hukuman maksimal 12 tahun penjara, serta denda maksimal Rp 6 miliar.
Rekaman video singkat tindakan asusila yang dilakukan 2 orang bocah beredar pada Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (27/05/2015). Rekaman video yang berdurasi 4 mnt 8 dtk itu diupload pada alamat situs website tertentu.
Dalam rekaman video dengan kamera ponsel tadi, 2 bocah melakukan hubungan intim layaknya adegan dewasa pada sebuah pekarangan rumah dihadapan sejumlah temannya. Dari bunyi dalam rekaman tadi, kedua bocah tersebut melakukannya atas perintah seseorang yang merekam.
"Turu-turu (tidur-tidur)" ungkap si perekam dalam bahasa Jawa yang terdengar jelas dalam suara rekaman.
Bunyi perekam terdengar seperti suara anak-anak. sewaktu diinstruksikan buat tidur, kedua bocah itu mengikuti perintahnya. Pada akhir rekaman video itu, terdengar bunyi pria dewasa yang menginstruksikan buat menyimpan rekaman tadi, jua dalam bahasa Jawa.